SELAMAT DATANG DI BLOG KOMUNIKASI DAN INFORMASI DPP LDII KAB. SRAGEN JAWA TENGAH
Marsasasasa

Entri yang Diunggulkan

Delapan Bidang Karya LDII untuk Program Calon Presiden RI

Jakarta (22/9). Di moment Idul Adha 1439 H diantara pembagian daging kurban, Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LDII Ir. H. Prasetyo Suna...

Sabtu, 10 Oktober 2015

PIKIRKAN ANAK TURUN KITA


KH. SHOBIRUN AHKAM
Ponpes Mulyo Abadi, Yogyakarta 
  
  " PIKIRKAN ANAK TURUN "

Written By Ponpes Mulya Abadi on 2015/09/17 | 08.10



Allah mengajarkan agar kita “Memikirkan masa depan anak turun.” Yakni berfirman:
“Walyakhsyalladziina lau tarokuu min kholfihim dzurriyyatan dhi’aafan khoofuu ‘alaihim wal yattaqullooha wal yaquuluu qoulan sadiidan.” [1][1]
Dan orang-orang yang kalau meninggalkan di belakang mereka anak-cucu lemah, hendaklah khawatir! Khawatir atas mereka. Maka hendaklah takut Allah! Dan hendaklah mengatakan perkataan yang benar!. [Qs Annisa 9].

Secara nyata Allah perintah agar kita memikirkan masa depan anak-cucu. Jangan sampai mereka nantinya menjadi kaum lemah. Oleh karena itu agar berbicara yang benar dalam urusan wasiat atau perkataan sehari-hari.

Kurang Peduli Anak

Di antara kita ada yang kurang perhatian padak anak, hingga mereka menjadi korban keganasan para syaitan. Hingga mereka melakukan perbuatan memalukan. Jika dikaji Penyebabnya, “Tidak (Belum) mengamalkan Firman di atas. Belum:
1.     Mengkhawatirkan (Memikirkan) anak-cucu.
2.     Takut Allah.
3.     Berkata benar.”

Mengkhawatirkan (Memikirkan)anak-cucu termasuk amal solih utama. Apalagi takut Allah mengenai agama mereka. Sungguh ada pria yang derajatnya di surga akan ditinggikan. Hingga berkata, “Bagaimana mungkin surga saya setinggi ini?.”
Akan dijawab, “Karena istighfar anakmu untukmu.” [2][2]

Anak Istri

Secara hukum anak istri, bukan anak. Tetapi akan lebih baik, kalau anak tiri dianggap anak sendiri. Yakni perhatian dan kasih-sayang pada mereka, disamakan dengan anak sendiri.
Bagaimana jika terjadi gejolak? Jawabnya, “Dikumpulkan untuk diberi pengertian.”
Jika berhasil menyatukan mereka dalam ikatan kasih-sayang, “Berarti telah menjadi orang hebat.”






[1][1] {وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا} [النساء: 9].

[2][2] سنن ابن ماجه (2/ 1207)
3660 - حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ عَبْدِ الْوَارِثِ، عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ، عَنْ عَاصِمٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «الْقِنْطَارُ اثْنَا عَشَرَ أَلْفَ أُوقِيَّةٍ، كُلُّ أُوقِيَّةٍ خَيْرٌ مِمَّا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ» وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنَّ الرَّجُلَ لَتُرْفَعُ دَرَجَتُهُ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ: أَنَّى هَذَا؟ فَيُقَالُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ "
__________

[تعليق محمد فؤاد عبد الباقي]
في الزوائد إسناده صحيح. رجاله ثقات

[شرح محمد فؤاد عبد الباقي]
 [3660 - ش - (باستغفار ولدك) أي فينبغي للولد أن يستغفر للوالدين.]